Senin, 28 November 2016

Teruntuk gadis yang dirundung tangis



Gadis mungilku
Masih bodohkah dirimu?
Untuk berapa masa lagi dirimu ternodai?

Gadis malangku
Untuk berapa bajingan lagi kau persembahkan tubuh mungil mu?
Bangunlah dan sadarlah
Mereka hanya mengatasnamakan cinta untuk hawa nafsunya

Gadis terkasihku
Untuk berapa malam lagi kau habiskan tangis?
Mengapa tak kau fikirkan bengkaknya matamu?

Sadarlah sayang
Bukankah temanmu lebih berharga dari tuanmu?
Mereka tak mengerti cara mempermainkanmu

Berhentilah menyendiri
Berhentilah mencari dia yang tak peduli
Berhentilah tuk harapkan cintanya lagi

Untuk apa kau habiskan malam
Hanya untuk seorang bajingan perempuan

Berhentilah tenggelam dalam mabuknya percintaan
Kau butuh sebuah hiburan
Merenung hanya akan buat dirimu berantakkan

Mari bermain waktu dengan ku
Jangan melulu termakan masa sedihmu
Itu takkan buat mu maju
Karena kamu hanya butuh aku
Bukan dia yang menyakitimu

Jakarta,27/11/2016
Elena ls.

Sajak Rindu



Tuan 
Aku rindu pada kamu
Bisakah kau tarik jarak itu
Aku menderita oleh jarak dan waktu
Aku ingin kita yang dulu

Tuan
Rayulah aku dengan nafsumu
Bawa aku kedalam hangatnya cumbu
Tenggelamkan aku dalam pelukanmu
Tarik aku kedalam gairahmu
Goda aku seperti waktu itu

Aku rindu masa itu
Dimana kamu inginkan tubuhku
Dimana gairahmu menggebu
Ketika kamu inginkan aku

Tuan jangan penjarakan aku dengan penyesalan
Berhentilah menjauh
Aku inginkan kamu 
Lelah hatiku habiskan waktu
Tanpa kehadiran mu
Tega kah kamu liat aku yang selalu rindu masa lalu?

Kemarilah pujanggaku
Dekap aku dengan rayumu
Tarik aku dengan gairahmu
Aku rindu itu

Jakarta tengah malam,
27/11/2016
Laurencia s.

Rabu, 23 November 2016

Kesepian

Aku
Puan yang melulu tak kenal manusia
Puan yang terlarang berdekatan dengan ciptaanNya
Puan yang tak ditakdirkan bersama kaumNya
Bahkan bersama para sang hawapun
Tuhan kadang memisahkan
Ini takdir?
Atau memang mereka yang tak yakin
Tuhan,
Ijinkan aku rasakan senang
Ijinkan aku bisa merasakan sayang
Ijinkan aku kasihi ciptaanMu
Atau Tuhan,
Haramkah aku untuk itu
Hina kah aku untuk cicipi itu?
Aku hanya makhluk biasa
Yang Juga punya rasa
Punya keinginan
Sendiri bukanlah pilihan
Hampa bukanlah rasa yang nikmat bagiku
Gelap bahkan bukan tempat ku untuk melihat dunia
Tuhan,
Sampai kapan aku menyendiri
Sampai kapan kau biarkan ucapku tegar dalam kesengsaraan yang tiada akhir
Sampai kapan tegar hatiku tuk tahan semua rasa sepi
Bisa kah aku tuk rasa kan kasih itu
Bisa kah hatiku terisi hati ciptaanMu
Aku bosan menyendiri
Hati ku lelah merasa sepi

Dari puan yang terpenjara sepi

Jakarta , 22 november 2016

Kamis, 10 November 2016

Kaum Ku atau Kaum Ku? (Puisi Peristiwa Demo 4 november)




Siapakah yang benar ?
Mungkin kaum mu berfikir
Bahwa kaum mu lah yang paling benar
Saat kau bilang dia menghina bangsa mu
Dan akhirnya kau serang dia bersama kaum mu
Seolah-olah dia yang paling hina di matamu

Terkadang aku berfikir
betapa lucunya negri ini
Saat satu orang mengumpamakan keadilan dengan bahasa mu
Disitu kau bilang dia menghina kaum mu

Tapi apa pernah kau sadari?
Berapa banyak kaum mu yang menghakimi kami?
Bahkan itu berlangsung setiap hari
Dengan pertanyaan yang menyiksa sanubari
sarkasmu yang sangatlah menyiksa hati
Saat kau tanya , " Hey! Apa kau tak malu lihat Tuhan mu yang telanjang sambil berdiri? "

Kau bilang agamu lah urusan mu
Agama ku adalah urusan ku
Namun mengapa masih kau tanya apa yang bukan urusan mu?

Berfikir seolah kaum mu lah yang paling binasa
Namun tak pernahkah kau sadari?
Bahwa kami tersiksa dibawah keminoritasan kami
Kau bilang kaum mu tertindas karena penista
Tanpa pernah sadar
Berapa besar kedewasaan kaum ku
Saat setiap hari menahan malu
Dengan cara terdiam menahan amarah
Saat kaum mu berkata "agamamu lah yang paling hina "

Pesan Tersirat

Kepada kekasih yang hampir sampai, Ku kirimkan sejuta penyesalan, cinta dan beribu-ribu kerinduan yang mendalam. Kali ini pula aku ing...